Selasa, 10 Agustus 2010

Mengapa Nabi Muhammad SAW Sehat ?

Kesehatan dan keselamatan termasuk nikmat Allah yang paling berharga kepada hambaNya, pemberianNya yang paling besar, karuniaNya paling agung, orang yang dilimpahi nikmat ini patut dan pantas memperhatikan, menjaga dan memeliharanya dari musuhnya, Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda, “Dua nikmat di mana banyak manusia tertipu padanya, kesehatan dan waktu luang.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakar berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Mintalah keyakinan dan keselamatan kepada Allah, seseorang tidak diberi sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada keselamatan.”(Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Syuaib dan Abdul Qadir al-Arnauth dalam ta`liq atas Zad al-Ma’ad).

Apabila kita menengok kehidupan Rasulullah saw maka kita mendapati bahwa beliau sehat seumur hidup, banyak faktor yang menunjang sehatnya beliau, salah satunya dan yang terpenting di samping panjagaan dari Allah adalah faktor makan dan minum. Siapa pun mengetahui bahwa makan dan minum berperan penting dalam menjaga sekaligus merusak kesehatan, makan dan minum ibarat pisau bermata ganda, jika ia diatur dengan baik maka akan memberi manfaat bagi tubuh, sebaliknya akan merusak dan memicu penyakit bagi tubuh. Inilah rahasia dari Firman Allah, “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.”(Al-A’raf: 31). Allah membimbing hamba-hambaNya agar makan dan minum yang bisa menegakkan badan dan dalam kadar yang bisa memberi manfaat kepada badan baik dalam jumlah dan cara, lebih dari itu merupakan israf (berlebih-lebihan) yang bisa memicu penyakit. Dahulu orang-orang Arab berkata, ‘al-bathnu bait ad-da`, perut itu adalah sarang penyakit.

Dari sini maka mengungkap fakta mengapa Nabi saw sehat berarti mengungkap fakta makan dan minum beliau, Imam Ibnul Qayyim -semoga Allah merahmatinya- dalam Zad al-Ma’ad jilid 4 mengungkap fakta makan dan minum beliau, di antara yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim -semoga Allah merahmatinya,

1- Nabi saw tidak membatasi diri pada satu macam makanan di mana beliau tidak makan selainnya, ini artinya Nabi saw makan secara berimbang, Ilmu kesehatan modern mengakui kebenaran perbuatan Nabi saw ini, makan yang dibatasi pada satu atau jenis makanan tertentu tidak baik dari sisi keseimbangan tubuh, akibatnya tubuh kehilangan keseimbangannya yang berujung kepada rusaknya kesehatan. Nabi saw saw makan daging, buah-buahan, roti, kurma dan lain-lainnya, beliau makan yang ada dan biasa di makan oleh kaumnya. Jika salah satu makanan memerlukan penyeimbang maka beliau akan makan penyeimbangnya, seperti panasnya kurma beliau seimbangkan dengan semangka, jika tidak ada penyeimbangnya maka beliau makan secukupnya tanpa berlebih-lebihan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.

2- Nabi saw menyukai daging dan yang paling beliau sukai adalah sampil. Dalam ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah berkata, “Kami bersama Rasulullah saw dalam sebuah jamuan, beliau disuguhi sampil, ia memang disukai oleh beliau, beliau menggigitnya…” Kita melihat bahwa sampil termasuk bagian yang rendah lemaknya, ringan bagi perut sehingga ia mudah dicerna di samping memberi kekuatan bagi tubuh, ini merupakan salah satu ciri makanan yang baik, makan makanan dengan ciri ini lebih baik dan lebih menjaga kesehatan daripada makan selainnya dalam porsi besar.

3- Nabi saw menyukai madu, gara-gara kesukaan beliau kepada madu sampai terjadi masalah di antara sebagian istri beliau karena beliau sedang menikmati madu di rumah salah seorang istrinya. Manfaat madu bagi kesehatan bahkan penyembuhan tidak diragukan sejak dulu sampai sekarang, diakui oleh seluruh kalangan, direkomendasikan oleh ilmu kesehatan, tidak mengherankan karena ayat al-Qur`an berkata, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”(An-Nahl: 69). Dalam Shahih al-Bukhari dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda, “Kesembuhan ada pada tiga: Minum madu…

4- Nabi saw makan kurma bahkan menyukainya, Aisyah salah seorang istri beliau pernah bercerita bahwa selama dua bulan tidak ada api yang menyala di rumahnya –maksudnya tidak masak- dia dengan Rasulullah hidup selama itu hanya dengan aswadan, kurma dan air. Dalam momen-momen tertentu beliau menganjurkan umatnya makan kurma, seperti pada saat berbuka puasa. Dalam al-Qur`an kurma sering disinggung, bahkan ketika Maryam ibu Isa hendak melahirkan dan dia mendapatkan kesengsaraan seperti dia dapatkan, Allah menyediakan untuknya kurma sebagai makanan. Semua ini bukan kebetulan atau karena kurma merupakan buah yang melimpah di sana, akan tetapi lebih dari itu, ternyata kurma itu mengandung apa yang dikatakan oleh Z.A. Maulani dari istrinya, “Istri saya itukan berlangganan dengan majalah American Medical Journal, dia memberitahukan kepada saya, ‘Zen’ katanya, ‘Masya Allah’ dia bilang, ‘Dari riset yang dilakukan oleh American Medical Journal itu ternyata kurma itu menyimpan hampir semua vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh manusia…” (Dikutip dari Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama, Hartono Ahmad Jaiz hal. 87).

5- Nabi saw makan secukupnya, tidak sampai pada tingkat berlebih-lebihan atau kekenyangan, karena makan yang mencapai tingkat kekenyangan lebih-lebih jika ia merupakan kebiasaan tidak baik bagi tubuh dan bisa memicu penyakit-penyakit yang bermacam-macam. Dari sini maka beliau menyarankan manusia agar makan seperti dalam sabda beliau, “Manusia tidak mengisi bejana yang lebih buruk daripada perut, cukup bagi Bani Adam beberapa suapan yang menegakkan tulang sulbinya, jika memang harus melakukan maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.”(HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya shahih menurut muhaqqiq Zad al-Ma’ad).

Dari Zad al-Ma’ad, Ibnul Qayyim al-Jauziyah. 














Sumber: Sholat Tahajud by Qiyamul lail

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tulis komentar anda disini, terimakasih.